Kamis, 18 Februari 2016

I'm Going to Write A Book : Day 6 (Musuh Baru)

Jangan tanyakan aku ini hari ke berapa. 

Akhir pekan sekolah memberikan kebebasan bagi murid-muridnya untuk menghabiskan waktu di rumah. Errr sabtu dan minggu, kuingatkan jika kau lupa kapan itu akhir pekan. Tidak untuk kali ini. Aku tidak akan menyia-nyiakan waktu senggangku terbuang sia-sia. Terlebih, Bibi Lily sedang dalam perjalanan menuju kemari. Oh tidak. Jangan sampai dia membuatku harus mencicipi masakannya. Maaf Lily, aku merasa kasihan pada hari-hari John. Bersabarlah Paman John, masakan istrimu memang......unik. Aku sudah mencoba menggunakan kata tersopan untuk menggambarkan rasa masakannya. 

Hentikan.
Aku harus keluar dari rumah.

***
Sepertinya aku baru pernah melihat toko buku ini. Hmm. Menarik. Mungkin aku bisa menemukan sebuah ide. 

Misteri..
Teka-teki..
Cerita hidup...
Kisah horor...
Love story...

Fan...ta..si...
Wait.

Hmmm. Hmm. APA??!

Selasa, 19 Januari 2016

Pasca Perang

Seluruh istana tertutup warna abu-abu, beberapa bagian masih berasap dengan nyala apa kecil. 200 meter dari gerbang utama berserakan pedang, anak panah, dan mayat-mayat prajurit. Kekalahan fajar tadi jelas masih sangat terasa, dari bau anyir darah, kelompok burung pemakan bangkai, dan keheningan di seluruh kerajaan. Sebagian prajurit yang tersisa kelelahan dan memilih bersandar pada apapun yang bisa dijadikan sandaran. Parit pertahanan istana menjadi keruh, airnya nyaris terkuras habis. Para wanita hilir mudik membawa ember berisi air hangat, handuk basah, sepotong roti atau apapun makanan yang tersisa, dan air minum sambil mendekati satu persatu prajurit yang selamat. Sementara pria lainnya mengumpulkan jasad prajurit yang gugur dalam serangan mendadak subuh tadi. Lawan kerajaan tidak hanya menang telak, kesempatan memakai baju zirah pun tidak diberikan untuk istana yang kalah.

Bagi raja pertempuran tadi sangat diluar dugaan. Perhitungan harinya meleset, kepercayaannya pada penasihat mulai kikis. Raja selamat bukan berarti tanpa luka. Lengannya tidak luput dari pedang musuh, mata kanannya memar akibat terjatuh dari kuda. Jauh dari itu, tidak ada yang mengetahui pengaruh pasca perang untuk seorang raja.

 “Siapa dia?”

Jumat, 28 Agustus 2015

Banyak Cara

ada orang yang dibiarkan Allah terikat dalam hubungan pacaran untuk waktu yang lama dan diizinkan menghalalkan hubungan tersebut sampai pernikahan

ada orang yang dibiarkan Allah terikat dalam hubungan pacaran sampai Dia tunjukkan kesalahan manusia tersebut telah berharap pada orang yang tidak tepat, dan diizinkan Allah berpisah untuk menemukan sosok yang telah disiapkan dan diridhoi Allah untuk hidup bersamanya

ada orang yang dicintai Allah sampai tidak Dia izinkan hati manusia tersebut terikat pada satu hatipun kecuali pasangan yang telah ditakdirkan Allah membimbingnya ke surga

ada orang yang dengan sabar Allah beri berkali-kali pelajaran tentang menjaga hati agar tetap tertuju pada-Nya, Allah temukan manusia tersebut dengan hati yang lain, diizinkan-Nya keduanya terpaut sampai mereka kembali taat dan mengambil pelajaran atas ujian Allah

ada orang yang dibiarkan Allah mengagumi seseorang tapi tidak Ia izinkan hatinya terpaut sampai waktunya tiba

ada orang yang dibiarkan Allah menyimpan perasaan dalam hatinya tanpa pernah terungkapkan

ada dua orang yang hatinya saling dikaitkan atas izin Allah dalam keheningan dan do'a yang berkepanjangan untuk melihat ketaatan tanpa mengurangi sedikitpun rasa cinta kepada-Nya

Dia-lah Maha Perencana. Yang memiliki banyak cara untuk menyatukan dua hati yang dipilih sejak benih arwahnya tertanam dalam rahim ibunya. Banyak cara yang tidak akan pernah diduga sekalipun oleh dua hati yang dikaitkan tersebut. Ada banyak cara, ada banyak jalan, ada banyak cerita.

Tapi hanya ada satu ridho-Nya untuk satu hati yang kelak menemanimu

The Story About Carrots

image source: www.google.com

The Beginning
Tersebutlah sepasang suami istri yang telah menikah selama 36 tahun dan hidup bahagia dalam petak rumah sederhana mereka di tengah desa. Dua orang yang ditakdirkan hidup bersama ini adalah seorang petani. Ladang dijadikan Tuhan sebagai tempat awal benih cinta mereka tumbuh dalam hati masing-masing. Pun sampai saat ini, kantong uang mereka dihasilkan dari tanaman sayur yang mereka rawat.

Suatu hari sang suami kembali dari pasar yang berjarak 7 kilometer dari rumah mereka. Hanya satu dalam 12 bulan diadakan jual-beli dalam jumlah besar di pasar tersebut. Konon kepercayaan mengatakan bahwa setiap tahunnya akan ada satu orang yang terpilih dapat bertransaksi dengan penyihir yang menyamar dan ikut berjualan di pasar. Tidak disangka, suami ini mendapat benih wortel dari penyihir yang dimaksudkan dalam legenda, bonus dari bibit seledri yang dibelinya sebanyak dua kantung. Si suami menceritakan pengalamannya bertemu dengan penyihir tersebut kepada istrinya, lengkap dengan penjelasannya tentang biji wortel yang diterimanya.

“Terimalah benih wortel ini, untuk saat ini hanya empat, dan kau tidak akan mampu menebak sampai kapan aku akan berhenti memberi wortel ajaib ini. Tugasmu hanya menanamnya berpasangan, dua dalam satu pot”
“Apa maksudmu?”
“Tanam setiap benih wortel yang kuberi, tanam secara berpasangan, hanya aku yang dapat memanennya”
“Untuk apa wortel ini?”
“Tanam setiap benih wortel yang kuberi, tanam secara berpasangan, hanya aku yang dapat memanennya”
“Mengapa hanya engkau yang dapat memanennya?”
“Tanam setiap benih wortel yang kuberi, tanam secara berpasangan, hanya aku yang dapat memanennya”
“Lalu apa fungsiku?”
“Tugasmu hanya menanam setiap benih wortel yang kuberi, tanam secara berpasangan, hanya aku yang dapat memanennya”
“Memang apa yang akan terjadi jika kutanam mereka dalam tiap pot yang berbeda?”
“Beragam kejadian, kau akan mengetahui setelah kubiarkan itu terjadi”

Sesampainya di rumah, segera ia taruh empat benih dalam dua pot. Diberi label A, B, C, dan D. Ditanam dalam waktu bersamaan, A dengan B, sementara C dengan D. Ditempatkan dalam ruangan yang sama, serta mendapat perlakuan yang sama pula. Dalam dua tahun pertama mereka tumbuh subur, berdaun lebat namun tidak nampak sedikitpun badan buah jingganya.

Minggu, 16 Agustus 2015

Hanyut Memperhatikan

"Kursi 15 ABC. Oh kiye-kiye" (Kursi 15 ABC. Oh ini ini)
"Disogna ngene bae, ibune lunggah dishit" (Letakkan di sini saja, ibu duduk dulu)
"Maturnuwun Pak" (Terimakasih Pak)

Tanpa melihat ke arah mereka, diam-diam aku memperhatikan keluarga kecil itu dari pantulan kaca jendela di sebelah dekat bahu kiriku. Sang Ibu segera duduk sambil melepas jarit gendongan yang melilit tubuh putra kecilnya. Mereka berjumlah empat orang. Putra tertua berusia sekitar enam tahun, sedang si bungsu terlihat baru di tahun kedua. Beberapa menit setelah kereta selesai singgah di Bumiayu, mereka duduk di kursi sesuai tiket yang dibeli. Ayah menghadap istrinya yang terus membelai bungsu mereka sambil berbicara dengan bahasa jawa berlogat kental banyumasan. Sesekali Si Ayah menggoda si bungsu tanpa melihat ke arah sulung yang terus diam menatap kaca jendela kereta. Berhasil benar laki-laki kecil ini merebut perhatian kedua orang tua mereka.

Selasa, 04 Agustus 2015

I'm Going to Write A Book : Day 5 (Best Authors)

Ini. Sudah. Sangat. Keterlaluan.

Memasuki hari kelima, aku mulai panik. Ingatanku berjalan mundur, tentu saja, mana ada ingatan yang berjalan maju Rino! Mencoba mencari-cari penyebab penundaan penulisan masterpiece ini. Urrgh tidak ada manfaatnya, mana mungkin aku menyalahkan orang lain, Bibi Lily? Tidak, dia hanya membuat jagung rebus dengan rasa telur asin yang sayangnya, dia tidak percaya. Sandra? Mana berani aku menyalahkannya, walau sudah jelas dia membuang tiga puluh menit lebih waktuku untuk mengikuti permainan memilih-wajah-orang. Bagaimana dengan Azka? Jangan ingatkan aku dengan anak kecil itu. Wajahnya membuatku iri, menurutku aku jauh lebih tampan, tapi semua orang mudah tertarik padanya. Atau Ted?? Anak itu memang menyebalkan, jangan sampai wajahnya muncul dalam ingatanku!

Sepertinya aku butuh inspirasi. Mungkin google bisa membantu. 

Sabtu, 10 Mei 2014

Curhat Seorang Teman

image source : http://all-free-download.com/free-vector/man-suit-silhouette.html
Kemarin siang seorang sahabat bercerita, perkara seorang pria yang diduga sedang menaruh simpati padanya. Satu alasan yang membuat sahabat ini ragu dengannya adalah mengenai hal sensitif, agama. Sahabatku, seperti yang kita ketahui bahwa Islam menganjurkan agama menjadi penilaian utama seseorang dalam memilih pasangan hidup. Setiap muslim dan muslimah secara bathiniah menginginkan pasangan yang taat beragama, terutama wanita. Suatu hari di tengah perkuliahan, dosen saya bertanya kepada seluruh mahasiswanya, "Diantara kalian siapa yang nantinya akan menikah?". Seisi kelas mengangkat jarinya. Sang dosen kemudian bertanya kepada salah seorang mahasiswanya, "Mas, kenapa kamu ingin menikah?". "Mmm....karena setiap orang diciptakan berpasang-pasangan Pak". Dosen bertanya lagi, "Kenapa kamu ingin menikah mas?". "Ingin ber-regenerasi, Pak". Setelah menerima dua jawaban dari satu murid, Pak Dosen ini melanjutkan kalimatnya.
"Kalian sebagai laki-laki, calon pemimpin, harus kuat, harus pintar. Kalau kalian tidak kuat, tidak tau untuk apa sesungguhnya menikah, apa tujuan kalian menikah, bagaimana nasib para ibu-ibunya? Mereka akan goyah, tidak tau harus berpegang kemana. Karena kalian lah kelak yang akan menjadi panutan mereka."

Kabar Duka

BBM dari bapak baru saya baca pukul enam pagi lebih beberapa menit. Karena sedang berhalangan shalat, rasanya semena-mena sekali melewati adzan subuh. Bapak memberi tau kabar duka, Pakde Budi wafat. Pade Budi adalah kakak dari bapak saya. Walau tidak begitu akrab, dan pertemuan dengan almarhum bisa dihitung dengan jari, tetap saja tangan ini pernah bersalaman, menatap wajah, berbincang akrab, dan sesekali mendengar kabarnya dari sanak saudara.
Umur dan takdir kematian seseorang sangat terasa hanya Allah yang tau, ketika orang yang kita kenal dipanggil oleh-Nya
Semua terasa begitu mendadak, sama seperti saat kepergian eyang putri. Padahal Allah sudah menyiapkan jauh sebelum yang dipanggil kembali itu hadir di dunia. Kabar pagi ini mengingatkanku sahabat, untuk berhati-hati dalam menjalani kehidupan di dunia. Karena memang sungguh ajal itu tidak diketahui, sangat rahasia, sehingga tidak jarang terasa amat tiba-tiba. Semoga kita semua bukan termasuk golongan orang-orang yang cinta dunia dan takut mati. Mari lanjutkan pencarian bekal kita :)

Selamat jalan pakde.. Semoga Allah menerima semua amal ibadah pade..

Minggu, 04 Mei 2014

Selamat Menyalurkan

Waw. Waw waw waw. Lama sekali saya tidak menulis sepatah-dua patah kata di sini. Jangan ditanya kenapa, beragam alasan bisa saja muncul, dari yang belum ada ide, ada beberapa tugas, waktu yang secara sombong dianggap tidak cukup luang untuk menulis, sampai pada alasan yang paling tidak enak untuk didengar, m a l a s hehehe. Itu alasan yang terakhir jangan sering dipake ya teman-teman hahaha. Jadi begini, apakah sering pikiran pembaca tiba-tiba secara ajaib memunculkan sebuah kalimat yang sedang tidak nyambung dengan kondisi saat kalimat itu muncul? Contohnya apa ya.. hmmm contohnya seperti kalimat yang muncul di pagi hari ini :
Inget ya.. semua kelebihan yang Allah kasih ke kamu, Fi. Itu bukan sepenuhnya buat kamu, tapi untuk orang lain. Makanya, manfaatin apa yang kamu punya, agar berguna untuk sesama.

Minggu, 02 Februari 2014

Terka dan Kira

Terdapat suatu kebun pada sebuah desa. Pemiliknya adalah seorang petani baik hati di desa tersebut. Jika datang masanya panen, petani itu selau membagi-bagikan hasil kebunnya kepada para tetangga. Sebagian ia jual ke pasar sebagai penumpu kehidupan. Suatu hari ketika sedang berladang, di tengah cuaca yang cerah berteduh awan biru, seekor kelinci terlihat sedang asyik memperhatikan tanaman wortel di ladang petani. 

image source : http://anekamesin.com/bisnis-keripik-sayur-dan-buah-semakin-hari-semakin-renyah.html
Si kelinci meloncat-loncat mendekati wortel yang terlihat sangat subur tersebut. Daunnya hijau cerah, sebagian warna oranye-nya muncul ke permukaan tanah. Bagi manusia, wortel yang tertanam tidak berbau harum seperti yang sampai pada hidung si kelinci. Petani baik hati ini diam saja memperhatikan tingkah laku kelinci yang terus mendekati dan terlihat tertarik pada wortel. Dalam benak petani, mungkin sesekali bersedekah pada kelinci tidak ada salahnya. Kelinci mencium-cium pucuk wortel, mengendus. Kumis-kumis panjangnya bergetar, dari matanya ia terlihat amat bahagia. Seolah berhasil menemukan yang selama ini dia cari.

Sabtu, 16 November 2013

I'm Going to Write A Book : Day 4 (Sepertinya Aku Orang Jahat)

Ini sudah hari keempat, memasuki musim hujan hawa menjadi lebih cepat dingin. Setiap hari halaman rumahku selalu basah. Aku bosan melihat Loyle, tetanggaku yang masih amat kecil itu melompat-lompat kegirangan di depan halaman rumahnya yang berumput dan tergenang air hujan. Tak bisakah kau melihat isi kepalaku Loy? Ketika semua orang bergembira menyambut hujan datang, aku merasa lesu dan khawatir. Bagaimana bisa aku meneruskan misi penulisan buku di tengah hawa yang begitu menggoda untuk tidur? Loy, aku harap kau akan selalu menjadi anak kecil, hingga kau tak perlu berfikir bagaimana cara memulai sebuah kalimat untuk menulis buku. 

Pagi hari ini seperti biasa aku berangkat menuju sekolah, berjalan melewati petakan jalan yang di sela-selanya ditumbuhi rumput hijau dan sedikit menyisakan genangan air yang terlihat amat segar. Ah! Terlihat begitu menggoda. Seperti biasa di sana sudah ada Loyle.

"Pagi Lin!". Sapanya disertai senyum yang memamerkan hamparan gigin kecilnya yang.....aku yakin milikku saat masih kecil lebih baik darinya.

"Hai Loy, melompatlah sesering mungkin agar kau cepat tinggi dan kita bisa bersama-sama membuat sebuah buku dan aku ingin menyerahkan tugas terberat padamu agar aku bisa duduk bersantai menunggu tulisan darimu dan aku yang akan menyuntingnya sementara kau yang akan menulis semua isinya, kemudian buku itu diterbitkan dengan namaku dan namamu dengan namaku dicetak mengunakan huruf yang lebih besar". Rasanya aku ingin membalas sapaannya seperti itu, tapi karena aku anak baik, yang keluar hanyalah "Pagi Loy. Melompatlah dengan penuh semangat". Sepertinya aku salah berucap, bisa kau tebak, dia meloncat lebih girang. Aku tidak tahu kenapa ibunya membiarkannya bertingkah seperti itu.
***

Senin, 04 November 2013

Balada Harapan Orang Tua

“anakku kelak akan tumbuh menjadi orang yang hebat. berbakti pada Tuhan-nya, bermanfaat untuk sesama”

“bagaimana kau yakin akan semua itu?”
“sedari kecil sudah kudidik dia melakukan kebaikan, kukasihi dia dengan tulus, kuajarkan do’a-do’a untuk keshalehannya, kuisi perutnya dengan makanan yang halal, kucukupi gizinya dengan buah buah dan sayuran terbaik”

“apakah kau ajarkan dia budi pekerti?”
“tentu saja. kalimat kalimat yang baik aku berikan, aku jauhkan dia dari kalimat buruk, kuajarkan kata maaf dan terimakasih sesering mungkin, kuberi contoh dia untuk menghormati yang tua, dan menyayangi yang muda”

“bagimana dengan ilmu pengetahuannya?”
“aku tidak ragu lagi. kusekolahkan dia ke sekolah terbaik, aku temani saat dia belajar, kubantu mengerjakan PR nya sebisaku, kubelikan mainan kesukannya agar dia pun mau belajar, kutempel tabel huruf dan angka di kamarnya agar dia mau berlatih”

“apa kau yakin agamanya cukup baik?”
“bagaimana mungkin aku salah? sudah kukatakan, kuajari dia do’a-do’a, aku pun memberi contoh padanya bagaimana beribadah, kuceritakan nabi-nabi, ajaran tentang Tuhan-nya, tentang kemuliaan agamanya”

“jika dia dewasa, kelak apa kau rela melepasnya?”
“......”

Rabu, 23 Oktober 2013

Jarum Detik Jam



image : http://wordsimagined.blogspot.com/2009/05/making-time-count.html
Semua orang sudah tau, bahwa dalam satu hari terdapat 24 jam. Semuanya sama rata memiliki 24 jam tersebut setiap hari. 24 jam itu dihitung dengan awal dan akhir yang sama. Itulah salah satu keadilan Tuhan. Terkadang kita merasa bahwa waktu berjalan amat cepat, sering pula lambat. Salah seorang teman saya pernah berkata, "Ketika kamu memperhatikan gerak jarum detik pada jam dinding yang berjalan secara kontinu, saat itu kamu akan menyadari bahwa satu detik terasa amat cepat. Namun jika kamu memperhatikan gerak jarum detik yang bergerak putus-putus, kamu akan merasa bahwa satu detik lebih lama (dibanding yang kontinu)". Memang benar ternyata. Perbedaan diantara keduanya adalah keberadaan 'jeda'. Pada jam dinding dengan gerak jarum kontinu, tidak ada jeda satupun, sebaliknya pada jarum jam yang bergerak putus-putus. Mana yang lebih kau sukai? Jarum detik bergerak kontinu, atau putus-putus?

Sabtu, 07 September 2013

BERTEMAN DAN BERSAHABAT

sumber gambar : grup fb angkatan -__- sensitif nih masalah tugas dan temen, tapi setuju  sih
Suatu hari pernah saya mencuri dengar perbincangan sekelompok wanita, ternyata kala itu topiknya tentang 'sahabat'. Salah satu diantaranya berkata kurang lebih seperti ini :

"Kalau aku ga punya sahabat, ga mau punya sahabat. Sahabat kan berarti harus deket, boleh masuk kamarnya, cerita apa aja ke dia. Emang ga takut ya kalau nanti rahasia kita dibocorin?"

Lawan bicaranyapun menimpali

"Iya aku setuju. Apalagi sahabat itu kan orang lain ya."

Well, rasanya kala itu saya ingin menimpali dan menanggapinya dengan pendapat pribadi, tapi nanti ketauan kalau saya sedang mencuri dengar hehe. Jadi menurut saya begini, setiap orang kan memang dari sananya diciptakan untuk hidup dalam lingkup sosial, Tuhan saja menciptakan manusia berpasang-pasangan, itu berarti maksudnya kita memang sudah takdirnya ga bisa hidup sebatang kara to? Maka yang namanya teman itu pasti ada. Baik ga sengaja ataupun disengaja kita mencarinya. Awal mulanya dia bukan siapa-siapa, orang asing yang sekedar saling melempar senyum. Lama kelamaan saling mengenal nama, dan interaksi meningkat secara spontan. Setiap dari kita pastinya secara otomatis bisa membedakan orang mana yang bikin nyaman, orang mana yang tidak. Kemudian yang lolos seleksi awal biasanya akan jadi teman. Teman ini pengertiannya banyak lo, dan berbeda juga tiap kepala. Ada yang menganggap teman itu kalau namanya sudah kita ketahui, ada pula yang menganggap teman itu yang sudah biasa akrab dengan kita, dan sebagainya. Bijaknya, sedari dulu kita sudah diajari to untuk tidak memilih-milih teman?

Jumat, 06 September 2013

I'm Going to Write A Book : Day 3 (Teen Choice Awards)

Baiklah baiklah. Sudah cukup dua hari aku menunda momentum bersejarah lahirnya halaman pertama bukuku. Kali ini aku harus membuatnya. Coba aku cek amunisiku. Peralatan tulis, oke. Lampu pendukung, oke. Kursi empuk, oke. Meja rapi, oke. Ehem, cemilan, oke. Dan, inilah kalimat pertamaku.....

......
......
......

kriiing kriiing kriiing

"Sandra? Ya halo, ada apa?"

Sandra : Kau sudah memberikan votemu di teen choice awards?
Aku      : Apa itu?
Sandra : Kau tidak mengetahuinya? Jangan bilang kau sedang bercanda!
Aku      : Aku sungguh tidak mengetahuinya, permainan apa itu?
Sandra : Rino, kau bilang kau anak keren! Aku sudah memilih Robert Dawney dan semua film yang dia mainkan! Kau juga harus memilihnya!
Aku      : Emmm... maaf, tapi itu untuk apa? Dan siapa itu Robert? Apakah dia tetangga barumu?
Sandra : Hentikan bercandamu Rino! Aku akan memberikan alamatnya, dan kau harus memilih dia! Itu membuktikan kalau kau benar-benar anak keren!

Momen Sial

Aku mengenalnya dengan nama Firza, dan namaku sendiri Agha. Suatu hari kudapati gadis itu bermain sepatu roda sambil berputar-putar tak tentu arah seorang diri di dekat air mancur kota. Kupikir dia tidak memiliki teman selain dirinya sendiri. Dia bernyanyi sambil berputar di satu tempat, seolah sangat menikmatinya. Hmmm jujur, aku termasuk orang yang tidak terlalu serius. Terlalu sering bercanda, tapi hanya kepada kaum pria, bagiku selera humor yang dimiliki wanita tak sebagus pria. Tapi dia terlihat lucu saat itu, mana ada gadis mau bertingkah aneh, bermain sepatu roda sendirian dan hanya berputar di satu tempat. Kupikir dia tidak ahli. Eh tapi tunggu! Dia berputar secara mundur! Dia bermain sepatu roda dengan mundur! Dan bernyanyi.

Aku heran. Alisku naik sebelah. Wah ini gadis luar biasa. Karena aku penasaran, aku dekati dia.

“Ehm, permisi. Bagaimana kau melakukannya?”. Karena daritadi sepertinya dia sengaja tidak menyadari keberadaanku yang sangat jelas berada di sebelahnya, maka kupikir dia wanita sombong yang suka jual mahal.

Rabu, 28 Agustus 2013

Lebih Dekat dengan Tuhan

Bismillahirahmanirrahim. 
Pembaca, sedikit saya ingin berbagi kisah spiritual, bukan kisah yang 'wow' tapi berdampak cukup besar kepada saya sendiri. Berawal dari pencerahan yang datang tiba-tiba tentang puja-puji yang biasa diucapkan seusai sholat. Biasanya seusai sholat kita memuji Allah sebanyak 99 kali yang terdiri dari tasbih 33x, tahmid 33x , dan takbir 33x. Kemudian usai memuji Allah, dilanjutkan berdo'a. Pertanyaan tiba-tiba muncul :

"Apa cukup itu saja pujian untuk Dia?"

Kalau dipikir-pikir dan diingat-ingat, kapan saya mengucap tahlil dan istigfar? Jarang bangeeet! Istigfar hanya kalau kaget dapet kesulitan, atau lagi inget dosa *parah banget ulfi*. Sedangkan tasbih, tahmid, dan takbir diucapkan sehabis sholat. Padahal dosa banyak, padahal harus sering mengingat Allah, tapi malah jarang istigfar dan ber-tahlil. Akhirnya saya mulai mencoba menambah pujian sehabis sholat, tahlil dan istigfar masing-masing 33x. Dampaknya apa pemirsa? 

Jumat, 19 Juli 2013

Sesaat, Semusim, Selamanya; Nikmati dan Bersyukurlah


13719162921847180546
Dalam perbincangan  dengan seorang sahabat sembari  menikmati keindahan alam kota Manado, topik pembicaraan kami akhirnya bermuara kepada kehidupan dan falsafahnya.  Betapa singkat sebenarnya hidup ini, dan bahwa selalu ada saja hal tak terduga yang terjadi  diluar rencana.  Seringnya  justru yang tidak diharapkan itu malah menjadi sesuatu yang indah, berkesan dan memberi pengaruh yang sangat besar.
Selalu ada kejutan dalam hidup . Namun demikian manusia harus merencanakan kehidupannya   seakan akan hari esok dan masa depan bergantung pada bagaimana persiapan  dan usaha  hari ini.  Mempersiapkan diri sebaik baiknya menghadapi hari esok, mengajarkan kita bahwa kerja keras dan ketekunan itu adalah dua faktor penting  untuk mencapai yang  kita dambakan. Sukses adalah perpaduan dari kerja keras dan ketekunan yang disempurnakan oleh doa.
Pada saat yang sama, keindahan hidup ini juga terletak pada bagaimana kita mampu bersikap fleksibel menerima hal hal yang terjadi diluar rencana,  namun tetap bersyukur dan  mengambil hikmah dari segala kejadian maupun belajar dari  orang orang yang hadir dalam hidup kita.
For everyone and everything that came into our life, there’s a purpose. Untuk semua orang yang pernah hadir maupun yang ke depan akan muncul dalam kehidupan kita, selalu ada tujuannya. Hidup sering membawa kita ke tempat dan situasi yang tanpa kita sadari merupakan bagian dari perjalanan yang digariskan Sang Pencipta.

Rabu, 03 Juli 2013

I'm Going to Write A Book : Day 2 (Aku dan Azka)

Oke. Lupakan masalah jagung dan telur asin semalam. Siang ini aku akan membuat lima halaman pertamaku. Eh sebentar, berarti harusnya lebih dari lima halaman. Ya akan kucoba deh.

Ibu : Rino....ibu mau ke pasar sebentar, titip Azka ya.

Oh tidak! Ibu menyodorkanku seorang bayi! Aku langsung dapat membayangkan nasib calon naskah bukuku ini, bisa-bisa dia akan berakhir menjadi lembar kosong sama seperti kemarin. Tapi aku tidak bisa menolak ibu.

Aku : Ya bu, letakkan saja disitu.

Gaya bicaraku seolah-olah Azka adalah sebuah barang. Maafkan aku Azka. Jadi kuperkenalkan dulu ya. Azka itu anak tanteku. Usianya masih dua tahun. Kalian pasti bisa membayangkan bagaimana tingkah anak usia dua tahun kan? Ibuku menaruh Azka di atas kasurku, sementara aku masih serius dengan kertas dan pensil. Tapi tiba-tiba aku melihat dia bergerak.

I'm Going to Write A Book : Day 1 (Jagung Rebus Rasa Telur Asin)

Aku ingin menulis buku! Yeah! Teman-temanku berkata bahwa orang yang terkenal dengan bukunya akan membuatnya terlihat keren. Apalagi jika buku itu mnejadi best seller. Sandra menyuruhku untuk menulis buku, dia berkata ada bakat tulis menulis dari mataku. Aku tidak tahu dia berbohong atau hanya ingin menghiburku. Satu-satunya jalan untuk membuktikan perkataannya adalah aku harus menulis sebuah buku sungguhan. Jika sampai bukuku tidak terkenal, kau orang yang pertama kali harus bertanggung jawab penuh Sandra, Kau harus membayar ganti seluruh biaya penerbitan. Tidak, suatu keajaiban jika aku berani memperlakukannya seperti itu.

Ini akan menjadi hari pertamaku menulis buku. Jika Sandra tidak berbohong dengan bakat yang ia lihat, aku cukup percaya diri untuk memulai sampai lima halaman pertama. Konsentrasiku penuh, sampai ketika..............