Tampilkan postingan dengan label imajinasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label imajinasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Januari 2016

Pasca Perang

Seluruh istana tertutup warna abu-abu, beberapa bagian masih berasap dengan nyala apa kecil. 200 meter dari gerbang utama berserakan pedang, anak panah, dan mayat-mayat prajurit. Kekalahan fajar tadi jelas masih sangat terasa, dari bau anyir darah, kelompok burung pemakan bangkai, dan keheningan di seluruh kerajaan. Sebagian prajurit yang tersisa kelelahan dan memilih bersandar pada apapun yang bisa dijadikan sandaran. Parit pertahanan istana menjadi keruh, airnya nyaris terkuras habis. Para wanita hilir mudik membawa ember berisi air hangat, handuk basah, sepotong roti atau apapun makanan yang tersisa, dan air minum sambil mendekati satu persatu prajurit yang selamat. Sementara pria lainnya mengumpulkan jasad prajurit yang gugur dalam serangan mendadak subuh tadi. Lawan kerajaan tidak hanya menang telak, kesempatan memakai baju zirah pun tidak diberikan untuk istana yang kalah.

Bagi raja pertempuran tadi sangat diluar dugaan. Perhitungan harinya meleset, kepercayaannya pada penasihat mulai kikis. Raja selamat bukan berarti tanpa luka. Lengannya tidak luput dari pedang musuh, mata kanannya memar akibat terjatuh dari kuda. Jauh dari itu, tidak ada yang mengetahui pengaruh pasca perang untuk seorang raja.

 “Siapa dia?”

Jumat, 28 Agustus 2015

The Story About Carrots

image source: www.google.com

The Beginning
Tersebutlah sepasang suami istri yang telah menikah selama 36 tahun dan hidup bahagia dalam petak rumah sederhana mereka di tengah desa. Dua orang yang ditakdirkan hidup bersama ini adalah seorang petani. Ladang dijadikan Tuhan sebagai tempat awal benih cinta mereka tumbuh dalam hati masing-masing. Pun sampai saat ini, kantong uang mereka dihasilkan dari tanaman sayur yang mereka rawat.

Suatu hari sang suami kembali dari pasar yang berjarak 7 kilometer dari rumah mereka. Hanya satu dalam 12 bulan diadakan jual-beli dalam jumlah besar di pasar tersebut. Konon kepercayaan mengatakan bahwa setiap tahunnya akan ada satu orang yang terpilih dapat bertransaksi dengan penyihir yang menyamar dan ikut berjualan di pasar. Tidak disangka, suami ini mendapat benih wortel dari penyihir yang dimaksudkan dalam legenda, bonus dari bibit seledri yang dibelinya sebanyak dua kantung. Si suami menceritakan pengalamannya bertemu dengan penyihir tersebut kepada istrinya, lengkap dengan penjelasannya tentang biji wortel yang diterimanya.

“Terimalah benih wortel ini, untuk saat ini hanya empat, dan kau tidak akan mampu menebak sampai kapan aku akan berhenti memberi wortel ajaib ini. Tugasmu hanya menanamnya berpasangan, dua dalam satu pot”
“Apa maksudmu?”
“Tanam setiap benih wortel yang kuberi, tanam secara berpasangan, hanya aku yang dapat memanennya”
“Untuk apa wortel ini?”
“Tanam setiap benih wortel yang kuberi, tanam secara berpasangan, hanya aku yang dapat memanennya”
“Mengapa hanya engkau yang dapat memanennya?”
“Tanam setiap benih wortel yang kuberi, tanam secara berpasangan, hanya aku yang dapat memanennya”
“Lalu apa fungsiku?”
“Tugasmu hanya menanam setiap benih wortel yang kuberi, tanam secara berpasangan, hanya aku yang dapat memanennya”
“Memang apa yang akan terjadi jika kutanam mereka dalam tiap pot yang berbeda?”
“Beragam kejadian, kau akan mengetahui setelah kubiarkan itu terjadi”

Sesampainya di rumah, segera ia taruh empat benih dalam dua pot. Diberi label A, B, C, dan D. Ditanam dalam waktu bersamaan, A dengan B, sementara C dengan D. Ditempatkan dalam ruangan yang sama, serta mendapat perlakuan yang sama pula. Dalam dua tahun pertama mereka tumbuh subur, berdaun lebat namun tidak nampak sedikitpun badan buah jingganya.

Minggu, 16 Agustus 2015

Hanyut Memperhatikan

"Kursi 15 ABC. Oh kiye-kiye" (Kursi 15 ABC. Oh ini ini)
"Disogna ngene bae, ibune lunggah dishit" (Letakkan di sini saja, ibu duduk dulu)
"Maturnuwun Pak" (Terimakasih Pak)

Tanpa melihat ke arah mereka, diam-diam aku memperhatikan keluarga kecil itu dari pantulan kaca jendela di sebelah dekat bahu kiriku. Sang Ibu segera duduk sambil melepas jarit gendongan yang melilit tubuh putra kecilnya. Mereka berjumlah empat orang. Putra tertua berusia sekitar enam tahun, sedang si bungsu terlihat baru di tahun kedua. Beberapa menit setelah kereta selesai singgah di Bumiayu, mereka duduk di kursi sesuai tiket yang dibeli. Ayah menghadap istrinya yang terus membelai bungsu mereka sambil berbicara dengan bahasa jawa berlogat kental banyumasan. Sesekali Si Ayah menggoda si bungsu tanpa melihat ke arah sulung yang terus diam menatap kaca jendela kereta. Berhasil benar laki-laki kecil ini merebut perhatian kedua orang tua mereka.

Minggu, 02 Februari 2014

Terka dan Kira

Terdapat suatu kebun pada sebuah desa. Pemiliknya adalah seorang petani baik hati di desa tersebut. Jika datang masanya panen, petani itu selau membagi-bagikan hasil kebunnya kepada para tetangga. Sebagian ia jual ke pasar sebagai penumpu kehidupan. Suatu hari ketika sedang berladang, di tengah cuaca yang cerah berteduh awan biru, seekor kelinci terlihat sedang asyik memperhatikan tanaman wortel di ladang petani. 

image source : http://anekamesin.com/bisnis-keripik-sayur-dan-buah-semakin-hari-semakin-renyah.html
Si kelinci meloncat-loncat mendekati wortel yang terlihat sangat subur tersebut. Daunnya hijau cerah, sebagian warna oranye-nya muncul ke permukaan tanah. Bagi manusia, wortel yang tertanam tidak berbau harum seperti yang sampai pada hidung si kelinci. Petani baik hati ini diam saja memperhatikan tingkah laku kelinci yang terus mendekati dan terlihat tertarik pada wortel. Dalam benak petani, mungkin sesekali bersedekah pada kelinci tidak ada salahnya. Kelinci mencium-cium pucuk wortel, mengendus. Kumis-kumis panjangnya bergetar, dari matanya ia terlihat amat bahagia. Seolah berhasil menemukan yang selama ini dia cari.

Jumat, 06 September 2013

Momen Sial

Aku mengenalnya dengan nama Firza, dan namaku sendiri Agha. Suatu hari kudapati gadis itu bermain sepatu roda sambil berputar-putar tak tentu arah seorang diri di dekat air mancur kota. Kupikir dia tidak memiliki teman selain dirinya sendiri. Dia bernyanyi sambil berputar di satu tempat, seolah sangat menikmatinya. Hmmm jujur, aku termasuk orang yang tidak terlalu serius. Terlalu sering bercanda, tapi hanya kepada kaum pria, bagiku selera humor yang dimiliki wanita tak sebagus pria. Tapi dia terlihat lucu saat itu, mana ada gadis mau bertingkah aneh, bermain sepatu roda sendirian dan hanya berputar di satu tempat. Kupikir dia tidak ahli. Eh tapi tunggu! Dia berputar secara mundur! Dia bermain sepatu roda dengan mundur! Dan bernyanyi.

Aku heran. Alisku naik sebelah. Wah ini gadis luar biasa. Karena aku penasaran, aku dekati dia.

“Ehm, permisi. Bagaimana kau melakukannya?”. Karena daritadi sepertinya dia sengaja tidak menyadari keberadaanku yang sangat jelas berada di sebelahnya, maka kupikir dia wanita sombong yang suka jual mahal.

Senin, 01 Juli 2013

Negeri yang Terbagi Dua

Degup jantung penasaran Mika semakin mengguncah. Kala melihat dan mendapati kenyataan bahwa jalan besar itu kini telah dirayapi puluhan kendaraan roda empat. Berjalan lambat menyusuri ibu kota. Menciptakan pemandangan modern sekaligus iris hati dengan suara klakson dan polusi yang mendominasi. Bahkan percakapan dalam mobil menjadi tidak terdengar. Sebab di luar sana orang sibuk dengan klakson dan stang kemudi.

“Negeri apa ini?”

Walau mobil saat itu sudah mampu menghasilkan penyejuk ruangan yang mengubah kadar CO2 menjadi O2 sebanyak dua kali lipat, sehingga kemacetan di jalan tak akan tega sampai menimbulkan peluh keringat, namun tetap saja kecanggihan teknologi tidak mampu mengubah pemandangan kota. Besi roda empat menjadi tokoh utama kota di tahun 2090. Kemajuan di bidang otomotif sedang gila gilaan berkembang. Tapi tetap saja semua sepakat bahwa hanya pesawat yang boleh menguasai langit. Jadi walaupun bahan bakar minyak berganti energi matahari, knalpot yang mengemulsi polusi menjadi oksigen (walau baru 10%), tetap saja bukan makhluk hidup penghasil oksigen (baca: tumbuhan) yang mengisi tiap sela kota.

“Ah kenapa dunia terasa semakin sempit sih?”
***
Sementara itu di bagian yang lain...
Seperti biasanya pagi datang dengan penuh semangat, udara bersih, matahari yang hangat, dan angin yang sejuk. Pertengahan bulan itu semua tanaman tumbuh subur, bunga-bunga bermekaran, warna warninya menghiasi setiap sudut taman depan rumah, bibir-bibir jalan, sampai ke tepian sungai. Terlihat dengan sagat jelas hijau segar dari daun di tiap ranting pohon, serta burung-burung liar yang beterbangan dari dahan ke dahan. Semua penduduk kota bercengkrama ramah tiap pagi, tegur sapa tiap membuka pagar rumah yang terbuat dari kayu. Iringan sepeda jadi pemandangan biasa, anak-anak sampai orang dewasa yang ingin menempuh tempat jarak dekat. Atau pejalan kaki, bertebaran di sela keramaian sepeda.

Kamis, 06 Juni 2013

Jenggot Pelangi

image: http://zrenjaninonline.info/component/k2/item/898-15-ve%C5%BEbi-za-bolje-pam%C4%87enje
Dua buah kata itu muncul di pagi hari Rabu ini. Masih berguling di kasur menikmati kemalasan dan udara pagi serta suara burung liar di lahan kosong sebelah yang otomatis nambah nambahin rasa males beranjak dari kasur. Dasar pemalas. Para pemalas lainnya pasti tau rasanya terjebak di kasur pagi hari.

Jenggot pelangi. Jadi pelangi itu kan warna-warni indah kemilau sedap dipandang mata ya. Bayangkan jika pelangi punya jenggot, kira-kira warnanya bagaimana ya? Adakah me-ju-ki-hi-bi-ni-u atau hitam-coklat-putih sama normal dengan warna jenggot pada umumnya? Lalu kalau pelangi berjenggot, bagaimana matanya? Sayu seperti orang tua, atau cantik seperti namanya? Apakah dia berkacamata? Lalu...lalu sekarang bayangkan ekspresi wajah pelangi jika dia berjenggot. Keriputkah kulitnya? Atau kencang dan muda selamanya? Menurut legenda, pelangi itu rumah bidadari. Darimana dongeng itu juga saya tidak tahu. Ah sial! Jadi waktu saya terbuang begini mudahnya hanya dengan membayangkan jika pelangi berjenggot! Untungnya pelangi tidak berjenggot. Sudah cantik dan sempurnalah pelangi yang seperti ini, yang diciptakan Tuhan. 

Kamis, 14 Maret 2013

Kehidupan (yang sebenarnya) di Loteng

Ruang di atas plafond(langit-langit rumah) biasa disebut loteng. Tidak ada yang pernah tau apa yang ada di dalamnya. Orang dewasa biasa melarang anak-anaknya untuk naik ke loteng karena dianggap membahayakan. Penuh debu, tikus, laba-laba, kecoa, dan hal menjijikkan lainnya. Oleh karena itu di setiap rumah tidak disediakan jalan masuk ke loteng. Kecuali sebuah lubang yang sengaja dibuat jika sewaktu-waktu harus memperbaiki jaringan kabel. Anak-anak saat ini tidak ada yang berani masuk ke loteng, kecuali jika rumah itu sengaja mengubah lotengnya menjadi ruang serbaguna. Bahkan tidak terlintas sedikitpun pertanyaan 'apa yang ada di dalam loteng' dalam benak anak kecil. Sugesti orang-tua, terlebih ibunya, memang sangat ampuh di era modern saat ini. 

Jika dimasukkan dalam logika, memang apa gunanya anak-anak bermain di loteng? Loteng bukan tempat yang luas, tidak ada lubang cahaya yang masuk, dan udara seakan pengap di dalamnya. Setidaknya itu yang menjadi gambaran umum di benak setiap orang. Loteng pun tidak menyediakan pohon-pohon, tanaman, dan air yang disukai anak-anak, atau ayunan, bak pasir, dan lungsuran yang digemari anak kecil. Loteng adalah sebuah ruangan yang gelap dan kotor. Itulah gambaran yang diciptakan orang tua mereka secara turun temurun. Jadi, tidak ada satu alasan yang membenarkan anak kecil untuk bermain di loteng.

Kamis, 10 Januari 2013

Lost Treasure (bagian akhir)

'Mungkin saja tempat itu kini telah berubah', pikir si pemuda masa kini sambil terus memperhatikan simbol HMA tersebut.

Tiba-tiba dia menyadari sebuah bangunan. Berdiri tunggal di tengah tengah suatu wilayah yang ramai. dan bangunan itu adalah....
Maskam Undip. Setelah diperhatikan, posisi toko annida berada di sekeliling maskam, untuk memastikan tempat itu aman dari orang-orang yang coba menerobos.

Beberapa hari berlalu begitu saja tanpa ada usaha dari si pemuda masa kini untuk mencari keberadaan harta. Mengetahui lokasi harta menurutnya sudah lebih dari cukup, apalagi setelah terungkap bahwa maskamlah tempatnya. Tidak mungkin ia membongkarnya.

"Kamu tau? di setiap anak tangga ganjil di maskam, ada tombol rahasia yang membuka ruang harta karun di bawahnya. Tapi ga ada yang sadar karena maskam dianggap rumah Allah yang tidak boleh diutak atik. Makanya harta masih aman sampai sekarang", kata tokoh kedua dalam cerita ini. (Kalau lupa, silakan simak lagi Lost Treasure bagian awal)

"Kamu.......tau darimana? Kenapa kamu bisa tau banyak? Kamu siapa??", kali ini pemuda yang mengawali cerita ini yang dibuat kaget lawan bicaranya. "Jangan-jangan kamu...jangan-jangan kamu adalah keturunan Nida yang diutus untuk mempelajari 9 jalan kehidupan. kalau benar, berarti kamu orang yang diceritakan di legenda mampu membaca bahasa-bahasa kuno dan artefak-artefak tua. Kalau benar, berarti kamu adalah pemuda masa kini yang sering disebut dalam cerita! Kamu harus berhati hati, karena mungkin saja banyak yang mengincarmu untuk mendapatkan harta itu!"

"Ya aku tau itu".

*dalam cerita ini tidak diceritakan siapa dua orang tokoh yang terlibat pembicaraan langsung mengenai harta bersejarah. baik jenis kelamin atau ciri-cirinya. perhatikan sekeliling Anda, mungkin  salah satunya adalah orang terdekat Anda fufu*

-Lost Treasure. Semarang-
thanks to Allah and rissa

Jumat, 21 Desember 2012

Lost Treasure (bagian kedua)

.... 'hanya ada satu jalan di kota tua ini (re:Semarang) yang mampu membawa rakyatnya menuju kemakmuran'. Kemudian pemuda masa kini berlari dari tempat duduknya, mencari buku kuno tentang nama jalan di Semarang. Tanpa diduga, terdapat petunjuk lagi. Disebutkan bahwa kunci wasiat masih berada di tempat asalnya, yakni di antara dua kubus raksasa yang membentuk gerbang dari jalan lurus menuju Widya Puraya. Maka, tak lain dan tak bukan kunci itu berada di antara gedung ICT. Sebuah kenyataan yang mencengangkan ternyata kunci legendaris itu benar-benar terletak di UNDIP! Jelas benar ramalan yang menyebutkan bahwa UNDIP dibangun untuk menyembunyikan harta pameran di bawah tanahnya.

Melihat kenyataan bahwa tidak mungkin ia membongkar jalan UNDIP di antara gedung ICT, dikurunglah niat untuk mengambil kunci tersebut. Pencarian harta diteruskan tanpa kunci wasiat. Pemuda masa kini percaya mampu membobol pintu harta jika ia berhasil menemukan lokasinya. Dan, petualangan  selanjutnya diawali dengan pertemuan bersama Pak Pipik. Seorang guru besar arsitektur yang ternyata adalah cucu keturunan ke-5 dari Pak Sidharta.

Rabu, 19 Desember 2012

Lost Treasure

Suatu waktu, di jaman ketika langit masih begitu gelap. Sementara jauh di bawah lapisan langit pertama, tempat dimana manusia tinggal bersama hingar-bingarnya. Disitulah, terdapat satu kerajaan yang sedang dikuasai oleh suku berkulit putih. Londo, sebutan yang diberikan oleh penduduk asli kepada kaum yang menjajah mereka.

Pada tahun 1914, Belanda merayakan 100tahun kemerdekaannya dari Prancis. Perayaan akbar itu diadakan di Semarang, Indonesia. Pameran setara world expo digelar selama tiga bulan. Kaum dari daratan seberang, lautan seberang, datang berbondong-bondong. Semua begitu mewah, meriah, diatas penderitaan pribumi. Namun, belum selesai kegilaan akan kemewahan itu, meletuslah Perang Dunia I. Pameran pun berakhir. Bukan hanya berakhir, namun hilang. Hilang tanpa jejak. Meninggalkan sebuah tanda tanya besar, dan mitos-mitos akan keberadaan harta pameran.

Semua orang menanyakan dimana letak harta pameran tersimpan. Tiap generasi dihantui pertanyaan yang sama. Memang tidak masuk akal jika pameran seluas 26 hektar tersebut hilang begitu saja tanpa jejak. Seperti ada campur tangan sihir atau kekuatan gaib.

"Mungkin harta itu ada di titik 0 kota Semarang", kata seorang pemuda.
"Hah? Dimana?", jawab temannya.

Senin, 19 Maret 2012

TUNAS

Dari kecil sudah bersaing. Menyeruak ke luar setiap tunas yang ingin tumbuh. Memunculkan titik-titik harapan akan kehidupan. Bersaing warna dan tinggi. Yang terang dan kokoh adalah yang menang. Tunas-tunas hijau itu tumbuh subur di tempat yang lembab. Tersiangi matahari dibasahi hujan. Pucuk-pucuknya berlomba menjulur ke atas bergesekan dengan angin sambil menancapkan akarnya ke bawah dengan kuat. Tunas tidak mengenal asal. Meski satu rumpun, satu tempat, dan satu induk. Mereka tumbuh dan menciptakan kehidupannya sendiri. (10 Desember 2010)

Minggu, 11 Desember 2011

Ingat

"Hey Nad! ayo kita bersepeda!"

Bersepeda? ah.. ajakan temanku tadi membawa ingatanku pada Pram. Humm apa kabar ya dia di sana? apakah dia masih suka bersepeda? ataukah dia lebih sering berkendaraan bermotor? apakah dia masih senang minuman bersoda? ataukah sekarang lebih senang kopi? Pram. apakah kau ingat aku?

Pram, aku tau di sana kau pasti memiliki banyak teman. kau mudah bergaul dan pasti ada banyak orang-orang baru yang hadir ke kehidupanmu. aku masih di sini Pram. mengenyam pendidikan di tanah kelahiranku. aku bosan, aku ingin sepertimu Pram. kau hebat.

Pram, aku tidak pernah memikirkanmu sejak senja terakhir yang kita lewati. aku sengaja. aku tau akan ada rasa tidak nyaman jika kuingat semua tentangmu Pram. aku tau kau tidak jahat, tidak salah, kau baik. tapi aku yakin akan ada rasa tidak nyaman jika aku mengingatmu. seperti rasa bersalah dan....penyesalan.

Pram namun saat ini tiba-tiba aku teringat padamu. tapi tenang Pram, aku tidak akan menghubungimu. aku tidak ingin semua-semua yang dahulu teringat lagi. aku ingin kita tetap berjalan masing-masing ke arah tujuan kita. aku yakin akan ada rasa tidak nyaman di antara kita berdua jika kita melihat ke masa lalu. aku diam Pram.

Hey Pram. kapan kita bisa bertemu? ah aku tidak berharap banyak. tapi akan sangat bersyukur jika bisa bertemu. tapi aku ingin kita bertemu sebagai pribadi yang baru. jangan membawa masa lalu ke masa sekarang ya Pram. kita simpan kenangan itu masing-masing, dan tidak usah dibahas. 

Pram. jaga diri baik-baik di sana. aku sudahi ya mengingatmu.

"Ayo Ras! kita ajak yang lain, sudah lama aku tidak bersepeda", balasku.

Selasa, 29 Maret 2011

senja


senja masih menemani mereka, atau kah mereka yang masih menunggu senja sampai ia hilang dibalik garis horizontal barat. warna oranyenya se-oranye hati Nadia saat ini. bermakna gelisah dan ingin segera mengakhirinya. di sampingnya masih berdiri Pram. laki-laki yang mengucapkan janji-janji manis 2,5 tahun lalu, saat mereka berdua masih berpakaian SMP di SMA baru tangannya tidak lagi menggemgam tangan wanita disampingnya, bahkan mereka tidak saling menatap. kurasa senja sengaja memperlambat dirinya untuk tidur di balik langit jingga. akhirnya Nadia angkat bicara.

"Sebenarnya apa maumu Pram? mengapa kau ajak aku ke sini?". Nadia berkata sambil menatapnya, tapi dia tidak balik menatap. sebagai seorang wanita, feelingnya tidak jarang salah. akhirnya sebelum ia mendengar langsung dari mulut Pram, Nadia lah yang memulai berkata-kata. dan semuanya tercurahkan. dengan kalimat yang dibuat sehalus mungkin, dengan kata yang sebisa mungkin dibuat tidak menyakitinya dan Pram. semua alasan yang dibuat senalar mungkin, berharap semoga Pram mau mengerti. suaranya ditahan agar tidak bergetar dan bernada tetap, semoga Pram tidak mengetahui rasa sedih yang mengganjal.

"Aku mengerti Nad. Itulah yang ingin kukatakan, kita satu pikiran. Aku tidak mau ini menjadi halangan bagi kita untuk memulai masa depan kita masing-masing", begitulah jawaban Pram.

ternyata keputusannya sama. sudah waktunya menutup cerita yang lama merekabuat berdua. Pram tidak mengatakan satu alasan apaun, dia hanya meng-"iya"-kan pembicaraan Nad. mereka pun saling tatap dan tersenyum. lagi-lagi mereka satu pikiran, meski hari ini pikiran sepasang kekasih itu sama-sama tidak enak. semoga ini yang terbaik.

akhirnya senja pun pergi. dan langit jingga berubah normal menjadi lebih kelam. esok tidak lagi ada cerita Pram dan Nadia yang selalu berangkat sekolah bersama, atau pulang bersama. hanya ada Pram dan Nadia yang berdiri di jalannya masing-masing dan menatap masa depannya sendiri-sendiri. Pram akan melanjutkan sekolahnya di Singapura.

Sabtu, 12 Februari 2011

Jonah, Janex


Jonah dan Janex adalah dua orang sahabat yang terpisah puluhan kilometer sebelum mereka saling mengenal. salah seorang dari mereka bercerita :

"aku dan Janex bertemu saat ayah dan ibu kami sama-sama menjadi penduduk Vonderwers untuk yang pertama kalinya. kami tinggal di Marsarta dan rumah kami hanya terpisah beberapa petak jalan saja. Aku dan Janex bersekolah di sekolah yang sama, berada dalam satu kelas yang sama, mengikuti kegiatan ekstrakulikuler yang sama, dan menyukai warna yang sama. tapi kami belum saling mengetahui itu semua sampai suatu hari Janex jatuh dari sepedanya. dia adalah wanita dengan gaya bersepeda yang sangat jelek sekali, bahkan aku yakin saat itu adikku yang berusia 3 tahun sudah jauh lebih baik dibandingkan Janex. hari itu adalah hari ketiga Janex latihan bersepeda, aku sudah memperhatikan caranya bersepeda sejak hari pertama, buruk sekali. dia masih menggunakan roda empat, dan kakinya bergetar tiap dia mulai mengayuh pedal pertama. dia memulai latihan intensnya di lapangan tenis mini yang sangat amat jarang dikunjungi orang. lapangan itu ada di belakang taman kota dan tertutup tumbuhan bersulur yang berbunga indah ketika musim semi. Janex masih tersungkur dengan lutut kanan yang memar. dia tidak menangis atau meradang kesakitan, aku sengaja menuruni lima anak tangga yang berlapiskan rumput hijau musim semi dan berjalan mendekatinya. aku mengejekknya habis-habisan, aku benar-benar dibuatnya tertawa melihat anak perempuan berusia 19 tahun yang belum bisa bersepeda. tapi dia tidak marah, atau membalas sindiranku, atau berpaling dariku. dia menyuruhku menjadi guru bersepedanya. katanya itu adalah hukuman karena aku telah meledeknya, dan jika aku menolaknya, dia bilang aku akan menjadi laki-laki pengecut yang paling besar omong. aku bersedia mengajarinya dengan syarat hanya dalam waktu dua hari saja aku menjadi gurunya. dia setuju. setiap sore dimulai keesokan harinya setelah Janex jatuh, aku terus mengajarinya sampai akhirnya dia bisa melepas kedua roda bantu di kanan dan kiri sepedanya. meski hari itu aku sangat yakin dia terlihat amat jelek dengan wajah berpeluh keringat dan lecet dan luka disekitar tangan kakinya dan rambutnya pun tidak rapi dan bajunya kotor akibat berkali-kali jatuh. tapi dia tertawa puas. setelah hari kesuksesannya bersepeda, setiap sore kami bersepeda bersama di taman kota. aku tidak lagi tertawa saat melihatnya bersepeda, bahkan dia terlihat cantik dengan bajunya yang bersih dan rambutnya yang rapi dan senyumnya yang ramah dan kulitnya yang putih. setiap sore kami bersepeda, atau berjalan bersama mengunjungi taman kota. kami masih akrab sampai sekarang dan tetap mengunjungi taman kota. dan hari ini aku yakin sekali saat pukul empat sore nanti dia akan mendorong kursi rodaku ke taman kota. kakiku terasa sudah sangat renta untuk berjalan. rambut putih di kepalaku sudah bisa membuatmu menerka nerka usiaku, tapi Janex masih kuat berjalan. sepertinya pengalaman jatuhnya saat bermain sepeda membuatnya sedikit lebih kuat dibandingkan aku. tapi dia tidak tertawa atau memberiku sindirian saat melihat aku tidak mampu lagi berjalan. dia merawatku dengan sangat baik dan sabar. dia istriku yang paling cantik."

Jonah dan Janex bersahabat sangat lama sampai mereka melampaui persahabatan mereka.

Jumat, 31 Desember 2010

Pertemuan di Kereta

Hari ini adalah hari terakhirku di kota mendoan. Aku pergi lagi-lagi dengan alasan pedidikan. Enam tahun yang lalu aku pergi dari surga masa kecilku di Ranah Minang pulau seberang dan harus ke kota SATRIA ini untuk meneruskan sekolah tingkat pertamaku. Hari ini aku pergi lagi dan tujuanku kali ini adalah kota pelajar, Yogyakarta. Pengumuman SNMPTN kemarin adalah keputusan bulat dan akhir, aku tidak mungkin bisa menghindari UGM sebagai tempat lanjutanku mencari ilmu. Perjalanan lima jamku kulalui dengan berkereta, cukup kelas ekonomi saja sudah bisa mengantarkanku ke Jogja. Pukul enam pagi aku sudah berada dalam gerbong, berbaur dengan puluhan penumpang lain dan bau-bauan yang beranekaragam. Atmosfer seperti ini memang bukan yang pertama kali kujalani. Namun ini terasa beda, sebab aku sebatangkara sambil membawa dua ransel penuhku. Teman-temanku sudah lebih dulu berada di Jogja sejak kemarin. Mereka berjanji akan menjemputku di stasiun nanti.
***

Aku duduk di kursi nomor 15 A, di depanku ada seorang ibu dan dua orang anaknya. Lalu di sebelah kiriku ada seorang mahasiswi cantik berkerudung yang duduk manis. Aku berharap dia adalah seniorku di Universitas yang sedang aku tuju. :)

Aku melihat sekeliling dan bersyukur bahwa tidak ada perokok di dekatku. Satu-satunya alasan yang membuatku tidak suka kereta ekonomi adalah tidak adanya peraturan dilarang merokok. :D Perjalanan sudah berlalu selama satu jam. Roda-roda kendaraan panjang jarak jauh ini terus melaju sambil menimbulkan suara khasnya. Lambat laun mataku mulai terbuai angin dan udara pagi hari yang lembut. Tak ingin tertidur di kereta, aku terus memandangi sekeliling meski kali ini dengan setengah sadar. Dan aku menjadi 100% sadar saat mataku terbelalak bertemu dengan pandangan seseorang yang tak asing lagi bagiku.
***

Bagus Muhammad Akram adalah laki-laki yang menundukkan pandanganku. Tiga tahun berpisah tidak mungkin membuatku lupa senyuman dan tawa lepasnya. Dia duduk terpaut tiga kursi dariku. Aku berada di bagian deret sebelah kanan, dan dia di bagian kiri. Wajar bila dia tidak melihatku. Sesaat suasana menjadi haru. Bau coro dan pikuk suara penumpang serta ributnya penjual yang mondar-mandir menjadi hal yang tidak dapat dipedulikan. Perpisahan di masa SMP terasa baru kemarin dan aku sangat senang dengan pertemuan ini. Mataku bisa saja melihatnya, tapi matanya mungkin tidak menyadariku.

Perjalanan ke Jogja masih empat jam lagi. Berarti masih tersisa waktu empat jam sebelum kami berpisah lagi, tidak tahu untuk berapa lama. Tiga tahun saja sudah banyak cerita yang terjadi yang tidak saling kami ketahui. Tentu akan menjadi sangat menyenangkan jika kami mengobrol. Kegengsianku membuat kakiku lemas melangkah mendekatinya, padahal masih ada ruang di sebelahnya yang sangat cukup untuk menampungku.
***

Aku menahan semua keinginanku. Sungguh egois! Bisa kubayangkan betapa asyik dan senangnya jika aku berhasil berbagi cerita dengannya. Aku ingin bercerita tentang orang yang mirip dengannya yang pernah kutemui, tentang dia yang kadang muncul dalam mimpi, tentang teman-temanku yang selalu bertanya semua hal mengenai dia. Entah dia akan mendengarkan atau tidak. Tapi semua keinanku tersegel oleh sebuah rasa gengsi dan malu. Aku sangat sangat ingin. Melihat wajahnya dari dekat, mendengar suaranya saat bercerita, mengetahui warna kesukaannya sekarang, hobinya, lagu favoritnya, dan apakah cita-citanya masih sama seperti yang dulu. Tiga tahun yang benar-benar memisahkan kami. Tapi lambat laun aku menjadi tidak yakin dengan semua keingintahuanku. Mungkin saja dia tidak seramah dulu, dan menganggap aku hanya sebagai bagian kecil masa lalunya yang tidak begitu penting bahkan untuk dijadikan seorang teman. Akhirnya aku diam. Semilir angin melalui celah jendela kereta membuatku ngantuk.
***

Aku tertidur diiringi suara gitar dari seorang pengamen yang menyanyikan lagu "Semua Tentang Kita" milik PeterPan. Menghabiskan tiga jam pertemuan tanpa kata di kereta, dan menutupnya dengan dua jam dalam mimpi. Senandung lagu itu terasa nyata, masuk ke dalam mimpi, membawa serta kisah masa lalu. Aku tertidur dengan gambaran terakhir yang kubawa dari alam sadar, adalah senyuman Akram. Ternyata dia melihatku.
***

Kereta Logawa yang kunaiki berhenti memutar roda besinya. Sampailah aku di Jogjakarta. Kota yang akan membesarkanku selama kurang lebih 3-4 tahun kedepan. Tidak kuingat dan kucari lagi sosok masa laluku. Yang di hadapanku saat ini adalah masa depanku, pendidikan dokter ini harus lekas kuselesaikan! Aku menuju tempat kosku bersama teman-temanku yang sudah menanti di stasiun. Esok adalah hari pertamaku di universitas. Lalu esok pun tiba cepat secepat aku melupakan pertemuan di kereta kemarin. Kebersamaan dengan anak-anak satu kos membuatku menghabiskan satu malam di Jogja dengan sangat mudah.

Sesampainya di kampus, kami harus menghadapi para senior yang siap mendidik kami dalam rutinitas berjudul OSPEK. Kami para mahasiswa baru dibagi menjadi beberapa kelompok. Ada satu orang laki-laki diantara laki-laki lain yang tergabung dalam kelompokku. Kami pun saling bertegur sapa.

"Assalamu'alaikum ukhti", sapa lelaki itu.
akupun menjawab, "Walaikumsalam"
"Wah lama tidak berjumpa ya.. Tak kusangka kita bertemu di sini", kata laki-laki ramah itu.
"Iya. Sudah tiga tahun kalau tidak salah ya.. Kamu mengambil fakultas apa di sini?" tanyaku.
"Aku ambil fakultas kedokteran. Kamu apa Lif?". Dia tahu namaku :)

Begitulah awal pertemuan kami. Benar adanya, Allah selalu memiliki rencana yang besar untuk setiap hamba-Nya, yang tidak diketahui oleh siapapun. Aku pun tidak menyangka kegembiraan ini datang setelah tiga tahun yang terasa beda. Dan kini, aku menjadi sangat ikhlas dengan 4 jam yang kusia-siakan di kereta, sebab kuhabiskan 3-4 tahunku di kampus kedokteran, UGM, Jogjakarta dengan orang yang pernah menundukkan hatiku.
***

Bagus Muhammad Akram nama laki-laki yang kutemui di kereta, yang satu kelompok denganku, yang satu fakultas denganku, yang satu kampus denganku, yang sudah tiga tahun tidak berjumpa denganku, yang saat ini ada dihadapanku. Dia ramah dan tampan.


---Kamis, 30 Desember 2010 (kereta jurusan Jogja dan Solo)---