Seluruh istana tertutup warna
abu-abu, beberapa bagian masih berasap dengan nyala apa kecil. 200 meter dari
gerbang utama berserakan pedang, anak panah, dan mayat-mayat prajurit. Kekalahan
fajar tadi jelas masih sangat terasa, dari bau anyir darah, kelompok burung
pemakan bangkai, dan keheningan di seluruh kerajaan. Sebagian prajurit yang tersisa
kelelahan dan memilih bersandar pada apapun yang bisa dijadikan sandaran. Parit
pertahanan istana menjadi keruh, airnya nyaris terkuras habis. Para wanita
hilir mudik membawa ember berisi air hangat, handuk basah, sepotong roti atau
apapun makanan yang tersisa, dan air minum sambil mendekati satu persatu
prajurit yang selamat. Sementara pria lainnya mengumpulkan jasad prajurit yang
gugur dalam serangan mendadak subuh tadi. Lawan kerajaan tidak hanya menang
telak, kesempatan memakai baju zirah pun tidak diberikan untuk istana yang
kalah.
Bagi raja pertempuran tadi sangat
diluar dugaan. Perhitungan harinya meleset, kepercayaannya pada penasihat mulai
kikis. Raja selamat bukan berarti tanpa luka. Lengannya tidak luput dari pedang
musuh, mata kanannya memar akibat terjatuh dari kuda. Jauh dari itu, tidak ada
yang mengetahui pengaruh pasca perang untuk seorang raja.
“Siapa dia?”






Jonah dan Janex adalah dua orang sahabat yang terpisah puluhan kilometer sebelum mereka saling mengenal. salah seorang dari mereka bercerita :