ini ceritanya habis kecapean mainan bulu tangkis sama adeku di depan rumah embah. terus kebetulan orang-orang rumah pada pergi. kebetulan juga hari itu adeku libur sekolah, karena masih malas mandi, akhirnya iseng webcam-an. awalnya sih ga mau diupload, tapi karena ga sengaja ada pose adeku yang "katanya dia" lagi cantik, akhirnya dia minta diupload. saya ya jelas ga ngasih ijin karena itu fotonya saya lagi ga pake jilbab. akhirnya ade saya memaksa untuk pake jilbab, saya males karena masih sumuk habis badminton. lalu tiba-tiba saya ingat cara make sarung yang ninja-ninjaan diajarin sama bapak. yaudah, saya ambil satu sarung dari lemari, trus saya pake. nah begini kan aman.
Tampilkan postingan dengan label my family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my family. Tampilkan semua postingan
Kamis, 01 Maret 2012
Senin, 19 Desember 2011
sms dari bapak dan ibu
U : "aku punya 8 botol aqua mau diapain ya? masa ditaro di kamar kos?"
I : "ya diminum aja mba..."
(padahal yang saya maksud adalah botol kosong)
U : "pak"
B : "mlo.."
U : "ada apa?"
B : "ndak kuliah?"
U : "kan udah libur dari jumat"
B : "pulang to no.."
U : "masih ada makrab sama nunggu nile takutnya ada yang jelek"
B : "ya ditambahin"
U : "apanya?"
B : "nilenya ditambahin aja. gampang to.."
I : "ya diminum aja mba..."
(padahal yang saya maksud adalah botol kosong)
U : "pak"
B : "mlo.."
U : "ada apa?"
B : "ndak kuliah?"
U : "kan udah libur dari jumat"
B : "pulang to no.."
U : "masih ada makrab sama nunggu nile takutnya ada yang jelek"
B : "ya ditambahin"
U : "apanya?"
B : "nilenya ditambahin aja. gampang to.."
Senin, 08 Agustus 2011
ulfi dan kiki
Ini tentang saya dan adik laki-laki saya. Biasa saya panggil dekiki. Banyak pengalaman menyenangkan yang terjadi di antara kami, kebanyakan adalah pengalaman yang menyenangkan bagi saya, sedangkan bagi dia sama sekali tidak. Dia itu yang paling sering membuat saya tertawa di rumah. Dengan kepolosannya, dan tindakannya yang sering tidak penting.
*sms*
Kalau kami sama-sama sedang bengong, dia sering mengirim sms kepada saya meski kami duduk bersebelahan. Isinya adalah : “Yang buka sms ini orangnya suuuuangaatttt jeleeeeekkkkkkkk :-P”. Penting ga sms kaya gitu? Nggak.
*anterin ee*
Suatu malam ketika saya sedang membaca buku di kamar, ibu dan adik perempuan saya sudah tidur, tante saya juga sudah tidur. Orang yang masih terjaga hanya saya dan dia. Saat itu dia sedang mengerjakan PR, tiba-tiba tercium bau yang tidak enak. Sontak saya langsung menuduh dia, “Dekiki! Kalau kentut jangan sembarangan lah!”. Dia menjawab, “laaah maap...sakit peruuut”. Beberapa menit kemudian dia berkata,
Sabtu, 26 Februari 2011
SOEGENG SOEDIRO

26 Mei 1949. Sugeng Sudiro dilahirkan dari rahim seorang ibu yang sudah mengandungnya selama 8 bulan, ia lahir prematur dengan berat dua kilogram. saat itu masih kental suasana pasca proklamasi, masih ada rasa-rasa ketakutan dan penyesalan serta kepuasan membebaskan diri dari penjajah. Dunia telah mengalami kemajuan bahkan sebelum Indonesia diakui sebagai negara merdeka, namun teknologi kedokteran di Indonesia belum mampu menghasilkan inkubator untuk anak yang lahir prematur, sehingga Sudiro yang lahir prematur terpaksa dirawat dengan dua botol berisi air hangat di kanan dan kirinya. Ibunya tidak berani menyentuh anaknya sendiri sebab ukurannya yang kecil dan rentan. Beberapa tahun kemudian Sudiro pun tumbuh menjadi anak laki-laki yang normal. Ia berdiri, berjalan, makan, minum dan sekolah sama seperti anak lainnya. Setelah lulus dari masa wajib belajarnya selama 9 tahun, ia meneruskan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Sudiro merantau ke Jakarta, meninggalkan ayah, ibu, dan ketujuh adiknya di Purwokerto. Di sana ia dididik dan dirawat oleh bude dan padenya, dengan penuh kedisiplinan, sangat disiplin.
1979. Adalah awal kehidupannya sebagai pemimpin rumah tangga pengganti ayahnya. Ayah yang dicintai oleh 9 anggota keluarga itu pergi ke sisi Tuhan setelah selesai dengan tugasnya. Pesan terakhir kakek saya adalah "Aku titip adi-adimu ya Dir...". Wasiat ayahnya benar benar dijalani Sudiro dengan sungguh-sungguh. Ia masih melanjutkan sekolahnya di Jakarta, dan terpaksa mencari penghasilan untuk membantu ibu menambahi biaya pensiunan ayahnya guna menyekolahkan 7 orang adik dan seorang ibu yang ditinggalkannya di Purwokerto. Tujuh ribu rupiah tentu dirasa kurang untuk menghidupi 8 orang dengan 7 anak yang masih sekolah. Berbekal sedikit ilmu pengetahuannya belajar di jurusan Hubungan Internasional, Sudiro menulis beberapa artikel mengenai politik. Kebaikan berpihak padanya, artikelnya dimuat media cetak surat kabar, beberapa kali, dan jerih payahnya itu menghasilkan uang yang ia kirimkan untuk keluarga yang ditinggalkannya. Sudiro membiayai sekolah ketujuh adiknya.
Universitas Nasional, Jakarta. Menjadi tempat Sudiro menimba ilmu. Hidup bersama saudara tidak seenak yang dibayangkan. Meski laki-laki, kata 'malas' tentu sangat dilarang jika sudah tinggal menumpang di rumah saudara. Sudiro terkadang masih harus menanak nasi sendiri. Didikan padenya memang keras dan disiplin. Jika ibu dan adiknya berkunjung ke Jakarta, dan jika tiba saatnya makan, Sudiro akan menanak nasi lalu menyerahkan nasinya kepada ibu dan adiknya. Sedangkan ia merasa sudah cukup mengisi perutnya dengan kerak nasi. Sudiro mengalah untuk ibu dan adiknya.
Kerja kerasnya terbayar. Lunas dan dengan sangat indah caranya, Lulus sebagai mahasiswa, Sudiro bekerja di Departemen Luar Negeri. Hari pertama ia berangkat mengendarai vespa milik padenya, lalu esok tidak lagi, lusa pun tidak, dan itu adalah hari pertama dan terakhirnya mengendarai vespa. Pemimpinnya pernah bertanya, "Diro, kamu ke sini naik apa?" "Naik vespa, Pak" "Vespa siapa?" "Punya om, saya dipinjami" "Kembalikan vespa itu ke om mu, besok dan seterusnya kamu harus berangkat kerja naik kendaraan umum atau jalan kaki saja". Dari situlah ia belajar untuk lebih berusaha. Untuk tidak bergantung pada kemudahan yang bukan miliknya.
Berasal dari keluarga yang sederhana, tidak menghalangi Sudiro untuk memiliki cita-cita yang tinggi. Pedoman "gantungkan cita-citamu setinggi langit" memang sudah ada sejak bangsa kulit putih tiba di Tanah Air, atau sebelum Perang Dunia 1 ada. Keinginan yang sangat ia dambakan sejak kecil adalah keliling dunia. Semua orang pasti menginginkannya. Semua orang juga mudah saja mengatakannya. Tapi hanya beberapa orang saja yang bisa menggapainya. Sudiro sadar betul pada keadaaan keluarganya. Tidak mungkin dia bisa meninggalkan Tanah Air dengan ibu dan 7 orang adik yang masih harus terus bersekolah, sedangkan bergantung kepada saudara merupakan hal yang sengaja ia hindari. Namun pada akhirnya ia berhasil. Sudiro berhasil menggapai cita-citanya. Setelah usaha dan kerja kerasnya bertahun-tahun disertai kesabarannya, kini ia sudah dapat menikmati rasanya berdomisili di Jepang, Fiji, Korea, Filipina dan Australia (aku lupa di mana lagi,hehe).
Sekarang Sudiro selalu dan selalu mengajarkan kedisiplinan kepada siapa saja, termasuk keponakannya. Saya. hahaha.
1979. Adalah awal kehidupannya sebagai pemimpin rumah tangga pengganti ayahnya. Ayah yang dicintai oleh 9 anggota keluarga itu pergi ke sisi Tuhan setelah selesai dengan tugasnya. Pesan terakhir kakek saya adalah "Aku titip adi-adimu ya Dir...". Wasiat ayahnya benar benar dijalani Sudiro dengan sungguh-sungguh. Ia masih melanjutkan sekolahnya di Jakarta, dan terpaksa mencari penghasilan untuk membantu ibu menambahi biaya pensiunan ayahnya guna menyekolahkan 7 orang adik dan seorang ibu yang ditinggalkannya di Purwokerto. Tujuh ribu rupiah tentu dirasa kurang untuk menghidupi 8 orang dengan 7 anak yang masih sekolah. Berbekal sedikit ilmu pengetahuannya belajar di jurusan Hubungan Internasional, Sudiro menulis beberapa artikel mengenai politik. Kebaikan berpihak padanya, artikelnya dimuat media cetak surat kabar, beberapa kali, dan jerih payahnya itu menghasilkan uang yang ia kirimkan untuk keluarga yang ditinggalkannya. Sudiro membiayai sekolah ketujuh adiknya.
Universitas Nasional, Jakarta. Menjadi tempat Sudiro menimba ilmu. Hidup bersama saudara tidak seenak yang dibayangkan. Meski laki-laki, kata 'malas' tentu sangat dilarang jika sudah tinggal menumpang di rumah saudara. Sudiro terkadang masih harus menanak nasi sendiri. Didikan padenya memang keras dan disiplin. Jika ibu dan adiknya berkunjung ke Jakarta, dan jika tiba saatnya makan, Sudiro akan menanak nasi lalu menyerahkan nasinya kepada ibu dan adiknya. Sedangkan ia merasa sudah cukup mengisi perutnya dengan kerak nasi. Sudiro mengalah untuk ibu dan adiknya.
Kerja kerasnya terbayar. Lunas dan dengan sangat indah caranya, Lulus sebagai mahasiswa, Sudiro bekerja di Departemen Luar Negeri. Hari pertama ia berangkat mengendarai vespa milik padenya, lalu esok tidak lagi, lusa pun tidak, dan itu adalah hari pertama dan terakhirnya mengendarai vespa. Pemimpinnya pernah bertanya, "Diro, kamu ke sini naik apa?" "Naik vespa, Pak" "Vespa siapa?" "Punya om, saya dipinjami" "Kembalikan vespa itu ke om mu, besok dan seterusnya kamu harus berangkat kerja naik kendaraan umum atau jalan kaki saja". Dari situlah ia belajar untuk lebih berusaha. Untuk tidak bergantung pada kemudahan yang bukan miliknya.
Berasal dari keluarga yang sederhana, tidak menghalangi Sudiro untuk memiliki cita-cita yang tinggi. Pedoman "gantungkan cita-citamu setinggi langit" memang sudah ada sejak bangsa kulit putih tiba di Tanah Air, atau sebelum Perang Dunia 1 ada. Keinginan yang sangat ia dambakan sejak kecil adalah keliling dunia. Semua orang pasti menginginkannya. Semua orang juga mudah saja mengatakannya. Tapi hanya beberapa orang saja yang bisa menggapainya. Sudiro sadar betul pada keadaaan keluarganya. Tidak mungkin dia bisa meninggalkan Tanah Air dengan ibu dan 7 orang adik yang masih harus terus bersekolah, sedangkan bergantung kepada saudara merupakan hal yang sengaja ia hindari. Namun pada akhirnya ia berhasil. Sudiro berhasil menggapai cita-citanya. Setelah usaha dan kerja kerasnya bertahun-tahun disertai kesabarannya, kini ia sudah dapat menikmati rasanya berdomisili di Jepang, Fiji, Korea, Filipina dan Australia (aku lupa di mana lagi,hehe).
Sekarang Sudiro selalu dan selalu mengajarkan kedisiplinan kepada siapa saja, termasuk keponakannya. Saya. hahaha.
bagian dari cerita
my family
Langganan:
Postingan (Atom)